September 24, 2014

Perbedaan

         Cinta,satu kata penuh akan definisi. Entah itu perasaan dagdigdug saat melihatnya berjalan ataupun perasaan gundah saat tak nampak lagi bayangnya dari kejauhan. Cinta,salah satu hal yang penuh kontadiksi dan kontras dalam kehidupan ini,kontras akan segala konflik,dan perbedaan yang menghidupkan cerita didalamnya. Kita tidak akan tahu,dan tidak akan pernah tau kapan,dimana atau dengan siapakah kita akan jatuh cinta. Karena sejatinya,saat jatuh cinta adalah saat hati terdalam kita mengatakan hal yang sama dengan apa yang akan kita perbuat, ya dan itu tanpa kita sadari.     Banyak yang beranggapan “cinta itu buta” ya tentu,karena disaat jatuh cinta segala sesuatunya nampak nyaris tak ada bedanya antara sang Sengkuni dan sang  Arjuna. Cinta itu maha adil dan bijaksana. Saat jatuh cinta kita sudah tidak dapat lagi membeda-bedakan suku,adat,maupun tahta mana yang akan kita pilih. Namun,patut kita ingat baik-baik. Cinta berawal dari tatapan mata dan akan berakhir dengan air mata.  Saat kita memilih untuk jatuh kedalamnya,segala hal dapat terjadi.
         Mungkin,cinta itu bebas untuk memilih. Tapi, sadarkah kita masih banyak pembatas yang kokoh,antara cerita rama dan shinta. Diantara adanya rasa saling menemukan satu sama lain dan keyakinan adat istiadat keluarga. Perbedaan memang akan selalu hadir di kehidupan,tinggal bagaimana kita menyikapi hal tersebut.Namun patut diingat,suatu perbedaan akan tetap menjadi perbedaan sampai kapanpun, sekalipun kita memaksakan untuk menyatukan kedua perbedaan tersebut. Mengalah,atau meninggalkannya? Mmmm saya kira,memilih dan melakukan salah satu diantaranya tidak akan semudah ketika mengatakannya bukan?  Nah,untuk yang satu ini  ada sebuah pedoman tentang sebuah perbedaan dan hal tsb telah dicantumkan didalam kitab umat Islam,yaitu Al-Qur’an diantaranya:

QS. Al-Kafirun 7-8 
“Bagimu agamamu,bagiku agamaku” yang ditujukan untuk saling menghargai dalam beribadah satu sama lain

Dan lebih ditegaskan lagi pada QS.Al-Baqarah 220 
“Janganlah kau menikahi wanita kafir sebelum mereka meyakini Allah SWT sebagai tuhannya  walaupun mereka menarik hatimu,dan janganlah kau menikahi lelaki kafir sebelum mereka meyakini Allah sebagai tuhannya walaupun mereka menarik hatimu..........”

Sudah sangat jelas kan ya?  Allah telah memberikan sebuah pedoman tersebut dan  semua itu kembali ke pribadi masing-masing untuk mengindahkannya atau sebaliknya. Belajar untuk merelakan memang akan terasa sulit diawal,karena semua butuh sebuah proses :)

No comments:

Post a Comment